BERANI MENJADI SAKSI KRISTUS
Lukas 9:23
“Setiap orang yang mau mengikut Aku harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”
Sadar atau tidak, menjadi saksi Kristus selalu ada
konsekuensi, terutama member kesaksian iman. Sejak awal Yesus sudah
mengingatkan para pengikut-Nya untuk berani menghidupi iman kepercayaan dengan
setia. Tentu saja dalam menghidupi iman dan member kesaksian itu para murid
tidak sendirian, karena Tuhan selalu akan menyertai mereka. Yesus dengan tegas
mengatakan bahwa Roh Kudus akan mengajari para murid bersaksi terutama ketika
menghadapi tantangan. Tuhan Yesus sungguh mempersiapkan para pengikut-Nya
dengan baik dan membekali mereka untuk menjadi pewarta kasih-Nya.
Oleh karena
itu untuk berani menjadi saksi Kristus, kita sendiri harus memperlengkapi
dengan senjata rohani yang ampuh, minimal dengan Kitab Suci. Karena melalui
Kitab Suci, Allah berbicara tentang seluruh keselamatan Allah sejak manusia
pertama jatuh dalam dosa.
Pada jaman
sekarang ini penolakan terhadap pengikut
Kristus makin nyata. Kasus yang paling gres adalah kasus pembakaran
gereja di Singkil, Aceh dan hal ini tentu menyebabkan ketakutan banyak orang.
Atau di tempat lain bagaimana orang-orang Kristen di daedrah Timut Tengah terus
diburu dan bahkan dibunuh. Inilah saatnya para pengikut Kristus berani menjadi
saksi-Nya.
Salah satu
contoh pengikut Kristus adalah Santo Ignatius dari Anthiokia. Baginya kematian
adalah kesempatan berani menjadi saksi Kristus. Baginya kematian merupakan saat
yang membahagiakan karena boleh mati demi Kristus yang dicintainya. Ia begitu
tegas menghadapi tantangan bahkan penganiayaan karena Roh Kudus menyertainya. Sikap
St. Ignatius yang diperlukan pada jaman ini yakni berani menjadi saksi Kristus.
Bagaimana dengan
diri kita, apakah kita kendor dengan adanya warta yang menakutkan karena
orang-orang Kristen para pengikut Kristus akan terus dikucilkan dan bahkan akan
dibunuh. Dan yang membunuh itu mengatakan bakti kepada Allah. Berani menjadi
saksi Kristus tentu tidak harus seperti para martir, tapi bisa melalui perbuatan
kita yang harus tampil beda dengan orang kebanyakan.
Sumber
: www.kuasadoa.com
Berikut ini
kutipan cerita hidup yang saya ambil dari Majalah HIDUP
AGAR MEREKA TIDAK DIDISKRIMINASI
Matanya berkaca-kaca. Sesekali ia
mengusap guliran bening air mata di kedua pipinya. Sepertinya ia tak tahan
membendung perasaannya. Iapun tampak terharu saat menyaksikan sekelebat kilas
balik karyanya melalui layar kaca ditengah-tengah orang-orang penderita
penyakit yang paling “ditakuti” di dunia saat ini : AIDS. Bahkan ketika maju ke
atas panggung untuk menerima penghargaan Sido Muncul Award kategori sosial di
Bawen, Semarang, Jawa Tengah, medio Desember 2002 lalu, air mata haru itu
sepertinya tak tertahankan lagi. Sesekali ia menggigit bibirnya sendiri tatkala
Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Sido Muncul menyalaminya.
Penerimaan penghargaan
yang diberikan kepada orangorang yang dengan tulus melayani sesame yang
menderita dan berkekurangan itu tiada lain adalah Situ Nurdjaja Soltief (33). Akrab
dipanggil Soltief di lingkungan kerjanya dan nona di tengah keluarganya. Ia bekerja
sebagai perawat di Rumah Sakit Dok II Jayapura, Tanah Papua, sejak 1996 hingga
sekarang.
Hadir di
lokasi pabrik jamu terbesar di Indonesia untuk menerima oenghargaan itu, bagi
Soltief, tak pernah terlintas dalam bayangannya. Ia sama sekali tidak menduga,
karya cinta kasihnya yang ia lakukan secara “diam-diam” (pada awalnya) itu
menarik perhatian banyak orang. “Saya tak menyangka,” tuturnya singkah kepada
HIDUP. Ia tak tahu siapa dan bagaimana karya yang dilakukan bersama dua orang
temannya itu sampai ketangan dewan juri yang terdiri dari Mohamad Sobary
(Pimpinan Kantor Berita Antara), Maria Hartiningsih (wartawan senior Kompas),
Anton Soedjarwo (Pimpinan Dian Desa), dan Romo I. Sandyawan Sumardi SJ
(penerima anugerah “Yap Thian Hien”). “Mereka mengabdikan diri secara tulus,
bahkan terkadang sampai mengurbankan apa
yang mereka miliki sendiri,” ujar Sobary tentang Soltief dan Suster Ilyas,
kedua penerima penghargaan kategori untuk tahun 2002 lalu.
Perkenalan Dengan ODHA
Lahir di Jayapura tahun 1970 dari pasangan Lutfi Soltief
(56) dan Siti Nurma Soltief (50), Soltief mengaku secara kebetulan saja
berkenalan dengan penderita AIDS yang sering disebut juga ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS). Setelah menyelesaikan pendidikan keperawatan (dilantik) di
Universitas Cendrawasih (Uncen), ia mulai bertugas di RS Dok II Jayapura pada
bagian perawat penyakit dalam. Tahun 1996, ia dipindahkan untuk bekerja di
bagian perawatan I/VIP. Di bagian inilah ia pertama kali berkenalan dengan
ODHA. Tepatnya, Oktober 1998. Saat itu ia merawat pasien laki-laki yang
kebetulan adalah teman mahasiswa satu angkatan di Uncen. Namanya Matferi.
Saat itu
Mtferi (30) masuk RS dengan gejala benjolan di daerah ketiak sebesar telur
ayam. Benjolan itu juga ditemukan pada kedua lipatan paha serta demam yang
berkepanjangan, serta nyeri seklai pada tulang-tulang. Rencana semula pasien
ini mau dirujuk ke Manado untuk dioperasi. Namun dibatalkan karena hasil
pemeriksaan darah yang diambil sehari setelah dirawat, yaitu tes determin untuk
HIV menunjukkan hasil positif. Hari-hari selanjutnya, pasien menunjukkan
gejala-gejala yang semakin banyak, seperti dari mulutnya keluar jamur. Seminggu
setelah dirawat, Matferi meninggal dunia dengan tenang.
Sejak peristiwa
tersebut, Soltief mulai tertarik dengan masalah HIV/AIDS. Drai pelbagai media
masa, ia juga mendapat informasi nbahwa kasus HIV/AIDS di Tanah Papua meningkat
dengan tajam. Banyak teman sekerjanya yang merasa takut dan kasus tersebut merupakan
kasus pertama yang dirawat di RS Dok II Jayapura. Lalu, bulan Oktober 1999, ia dipindahkan ke ruang perawatan
paru-paru. Di bagian inilah ia banyak bertemu pasien dengan gejala-gejala AIDS.
Suatu waktu,
seorang teman Soltief yang kebetulan bekerja di PKBI, menginformasikan bahwa
Klinik Reproduksi yang diselenggarakan PKBI di Tanjung Elmo (lokasi sekitar 37
km dari Jayapura) membutuhkan tenaga seorang perawat. Ia segera memasukkan
lamaran dan diterima bekerja pada LSM PKBI itu sebagai relawan. Disinilah ia
mulai belajar lebih banyak tentang HIV/AIDS.
Tak lama
kemudian, November 2000, ia mendapat kesempatan pelatihan konseling pre dan
post test pemeriksaan HIV/AIDS bagi tenaga kesehatan yang diadakan Kanwil
Kesehatan Provinsi Irian Jaya. Sesudah itu, ia mulai mencoba mempraktikkan
pengetahuannya dan melakukan konseling pada pasien AIDS dan keluarganya di
ruang kerjanay. Mula-mula ia mengalami kesulitan. Muncul juga rasa was-was, takut,
kadang juga tidak percaya diri. Namun setelah banyak berdiskusi dan mendapat
dukungan dari aktivis AIDS yang sudah berpengalaman, ia kian berani melakukan
konseling. Rasa PD-nya pun meningkat
katika sebuah lembaga memberikan kesempatan padanmya bersama tiga peserta dari
Merauke dan Sorong mengikuti The Fifth International Conference on Home and Community
Care for People Learning With HIV di Chiang Mai, Thailand, Desember 2001. “Pengetahuan
dan pengalaman lapangan sewaktu di Chiang Mai inilah yang sangat membantu saya,”
ujar aktivis yang membentuk satu “payung” bernama jayapura Support Group (JSG)
itu.
Dari Rumah ke Rumah
Mendengar nama HIV/AIDS saja bulu roma orang sudah
merinding. Apalagi harus menjadi perawat atau pendamping bagi mereka. Anggapan bahwa
penyakit ini amat berbahaya sudah merasuk dalam diri banyak orang. Tambah lagi,
obatnya belum ditemukan. Situasi ini juga membebani Soltief. Orang-orang
bilang, apa mungkin ia bisa melakukan tugas ini. Sinisme bermunculan. Namun,
justru itu menjadi tantangan baginya. Atas inisiatif sendiri, selepas bekerja
di RS, ia berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain. Terkadang ia mesti
naik perahu cepat dari satu pulau ke pulau yang lain. Namun PNS golongan II-D
ini tak mau putus asa. “Saya hanya ditemani seorang guru dan seorang ibu yang
statusnya HIV/AIDS positif,” tuturnya sambil menambahkan bahwa mereka sendiri mengeluarkan biaya-biaya
yang diperlukan. “Kalau saya lagi ada uang, ya saya yang bayar taksi atau
jonson,” timalnya. Dalam mendampingi penderita AIDS ini, Soltief lebih banyak
memberikan dukungan moril. Itu yang paling utama. Umumnya para penderita sudah
kehilangan harapan. Padahal belum tentu begitu. Selain itu, mereka juga
memberdayakan anggota keluarga pasien bagaimana cara merawat penderita AIDS
tersebut. “Ketika pasien pulang dari rumah sakit, tentu memerlukan perawatan di
rumah dan bagaimana cara memberikan obatnya,” timpal perempuan yang murah
senyum ini. “Kami juga berusaha memberikan dorongan kepada keluarga agar mereka
tabah dalam menghadapi maut ini, “kata Soltief dengan mata menerawang.
Berdasarkan
pengalamannya selama memberikan pendampingan, Soltief melihat jenis penyakit
yang satu ini sebetulnya sama dengan jenis penyakit lainnya. Penyakit-penyakit
lainnya juga bisa berujung kematian.
Ia mengaku
juga bahwa penyakit ini sungguh-sungguh dapat menakutkan sekaligus mematikan. Tapi
toh tidak segawat yang dipikirkan orang. “Lrebih berbahaya lagi, orang langsung
menstigatisasa dan mendiskriminasi korban dan keluarganya juga,” tandasnya. Ini
pula yang ingin diperjuangkannya. “Supaya mereka janganlah diperlakukan seperti
itu, “timpalnya dengan sorot mata yang tajam.
Soltief makin
lama makin prihatin katena jumlah korban, terutama di Irian, terus bertambah. Data
terbaru yang ia peroleh (2002) ada 1113 korban. Itu yang tercatat. Berapa yang
tidak? Korban meningkat sekitar 50-60 orang per tahun. Paling banyak di
Merauke, Timika, Jayapura, dan Sorong. Ini pusat-pusat perdagangan dan
pelabuhan. “Umumnya, orang Papua. Pendatang Cuma beberapa orang saja. Maka kami
di Papua sudah siaga satu. Maju kena
mundur kena. Bagi saya ini cukup parah,”ungkapnya prihatin. Ia mengajak
berhitung, kalau satu orang pasien yang tercatat itu mewakili 100 orang yang
tidak tercatat, hitung saja berapa sebenarnya yang sudah menderita AIDS di
Papua.
Melihat kenyataan
seperti itu, perempuan berambut pendek ini mengatakan akan berupaya sekuat
tenaga untuk memberikan advokasi kepada masyarakat di sekitarnya.
Teruslah
berjuang, Suster Soltief!!!
Sumber
: Majalah HIDUP
Dari
cerita hidup dari Suster Soltief, tentu kita dapat meneladan keberaniannya
dalam menjadi saksi Kristus di tengah-tengan kehidupan masyarakat yang ia
cintai. Untuk menjadi saksi Kristus tidak perlu dengan tindakan yang besar,
namun memulai dari yang kecil dan kemudian dengan dilakukan dengan ketulusan
hati dan dasar cinta kasih, Tuhan mengubah sesuatu yang kecil itu menjadi
sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang lain. Tentu perjuangan Suster Soltief
tidak berjalan mulus, dapat kita lihat bahwa ia mengalami tekanan batin pula
apakah ia mampu berhasil dengan tindakan yang ia ingin lakukan selain itu ia
juga diremehkan orang, sinisme pun juga bermunculan, orang-orang berkata apakah
Suster Soltief mampu melakukan itu. Namun itu tak menjadikan suatu penghalang
untuk Suster Soltief dalam melanjutkan karya cinta kasinya bagi para penderita
HIV/AIDS. Maka dari itu jadilah saksi Kristus di tengah-tengah kehidupanmu. Dengan
keberanian dan dasar cinta kasih, Tuhan akan selalu meyertai langkahmu. Tuhan
memberkati.
Sangat bagus sekali artikel ini. Lebih baik lagi jika artikel ini bisa terwujud dalam tindakan nyata
BalasHapusnice article! terus berkarya, Godbless ;)
BalasHapusNiceee:D
BalasHapusNiceee:D
BalasHapusKeren saya suka artikel ini
BalasHapussangat bagus dan menginspirasi lia :) semoga selalu menjadi berkat, Gby
BalasHapusNice lia lanjutkan terus untuk mewujudkan perdamaian di kehidupan sehari hari
BalasHapusNice lia lanjutkan terus untuk mewujudkan perdamaian di kehidupan sehari hari
BalasHapusartikel yang sangat menginspirasi, Good job :)
BalasHapusArtikel yg bagus dan menginspirasi thankss 😊
BalasHapusNice article,. :)
BalasHapuslanjutkan ya.semoga kita semua dapat mengaplikasikan menjadi saksi kristus dalam kehidupan ini. GBU
BalasHapusArtikel yang bagus, semoga kita semua bisa mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari
BalasHapusGbu :)
Nice artikel ,,, Smoga dapat bermanfaat agar setiap orang berani untuk menjadi saksi kristus :D
BalasHapusnice artikel. ditunggu artikel selanjutnya ya.
BalasHapusArtikelnya bagus..
BalasHapusGBU
wow, artikelnya sangat menginspirasi, semoga isi dalam artikel anda bisa terwujud, walaupun memang butuh proses, Tuhan Memberkati :)
BalasHapusArtikel yang bagus terus berkarya ya
BalasHapusnice article, sangat menginspirasi, thanks lia god bless u :)
BalasHapusartikelnya bagus jadi bisa nambah wawasan :)
BalasHapusartikel yang menarik liaa.. :)
BalasHapusGood article! Gbu
BalasHapusTerus bekarya lia. Kembangkan bakat mu! Gbu ^^
BalasHapusnice article :)
BalasHapusSaya setuju, dan saya sangat membenci diskriminasi. Kenapa saling menyakiti bila Tuhan mengajarkan untuk saling mengasihi?GBU Lia.
BalasHapusnice writing, keep going.
BalasHapusgood post.... semoga ini dapat menjadi pedoman bagi kita semua yaa... ku tnggu post mu selanjutnya GBU
BalasHapusArtikel yang menambah ilmu saya tentang agama. Terima kasih :)
BalasHapusjempol..artikel yang menambah wawasan...memantapkan kita dalam menjadi saksi Kristus
BalasHapusnice work. keep inspire others by your articles:)
BalasHapuskeep it up!
BalasHapus