Minggu, 13 Desember 2015



KASIH TUHAN TAK BERKESUDAHAN

“ Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kasih-Mu” – (Ratapan 3:22-23)

Kasih adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap orang, perasaan ini akan timbul apabila manusia tersebut mempunyai rasa memiliki dan menyayangi. Kasih juga bisa dikatakan hubungan keterkaitan antara manusia tersebut dengan sesuatu. Makna kasih yang sesungguhnya adalah bagaimana kita member yang terbaik untuk orang lain, baik itu membahagiakan, tidak merebut kebahagiaan orang lain dan membuka pintu untuk sebuah kasih yang tulus. Kasih juga tidak hanya berlaku untuk sesame, namun kasih juga berkaitan erat dengan Tuhan. Kasih kepada Tuhan berarti mencintai Tuhan dengan cara menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kasih dapat tergambarkan dengan ungkapan dari Santo Paulus dalam injil 1 Korintus 13:4-7”

Kasih itu sabar
Kasih itu murah hati
Ia tidak cemburu
Ia tidak memegahkan diri sendiri dan tidak sombong
Ia tidak melakukan yang tidak sopan’
Dan tidak mencarin keuntungan diri sendiri
Ia tidak pemarah
Dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
Mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu

Dari petikan ayat kitab suci tersebut terlihat bahwa “kasih tak berkesudahan” itu artinya kasih yang sejati tidak akan bertahan hanya untuk satu periode waktu saja, karena kalau begitu itu adalah kasih yang bersyarat. Kasih yang diberikan Tuhan kepada kita adalah suatu kasih yang , tiada habisnya, kasih yang tanpa syarat. Maka dari itu kita hendaknya sebagai hamba-Nya senantiasa memberikan kasih yang tanpa syarat kepada sesame kita baik itu kepada orang tua, sahabat, dan yang lainnya. Kasih yang tak berkesudahan tidak akan pernah bohong dan tidak pernah menyakiti, ia selalu berbuah baik dalam kehidupan kita.

Dalam hidup ini bagi saya kasih adalah satu hal yang penting dalam menjalin relasi yang baik kepada sesame dan terutama dihadapan Tuhan. Karena dari kasih ini akan memberikan kitasebuah rasa yang selalu peka terhadap keadaan sesame terutama bagi mereka yang mengalami kesusahan dalam hidupnya. Dengan kasih pula amarah yang tadinya membara, dapat mereda karena adanya kasih yang tulus dan tak berkesudahan tadi. Maka dari itu bangunlah sebuah kasih yang tulus dan tak terbatas dalam hati kita masing- masing agar dalam kehidupan yang kita jalani ini tejalin sebuah relasi yang baik kepada sesama kita dan terutama sebagai wujud nyata tentang ajaran yang sudahb Tuhan berikan kepada kita.


Berikut ada sebuah kisah inspiratif tentang kasih:

Ketika saya sedang berjalan-jalan menyusuri bandara O’Hare di Chicago, sesuatu memikat perhatian saya pada sebuah topi yang dikenakan oleh seseorang yang melintas terburu-buru di tengah tempat terbuka dalam bandara itu. Yang memikat perhatian saya adalah pesan tertulis pada topi itu yang hanya terdiri dari dua kata “sangkal semuanya”. Saya bertanya-tanya apa maksud dari kalimat pendek itu. Apakah itu berarti jangan pernah mengakui kesalahan? Atau bersikap untuk menolak kesenangan dan kemewahan hidup? Saya bertanya-tanya dalam hati sambil memikirkan apa arti dari dua kata sederhana tersebut. Saya mencoba merefleksikannya dengan apa yang terjadi kepada Santo Petrus, salah satu pengikut Yesus yang pernah beberapa kali melakukan penyangkalan. Di tengah suatu momen yang penting, tiga kali Petrus menyangkal bahwa ia pernahb mengenal Yesus! (Lukas 22:57-58.60). penyangkalan Petrus yang disebabkan oleh rasa takut itu menyebabkan ia merasa begitu bersalah dan hancur hati, sehingga dalam rasa gundah akibat kegagalan imannya, Ia hanya dapat pergi keluar dan menangis dengan sedihnya (Ay. 62).
Namun penyangkalan Petrus terhadap Kristus, sama seperti masa-masa penyangkalan iman yang kita alami sendiri, tidak akan pernah akan pernah mengurangi rahmat Allah. Nabi Yeremia menulis, “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” ( Rat. 3:22-23). Kita dapat meyakini dengan sepenuh hati, bahkan pada saat kita gagal, bahwa Allah kita yang setia melawat kita dengan rahmat dan belas kasihan yang tak akan pernah berkesudahan!

Dari petikan ayat tersebut, makna yang dapat saya ambil ialah bahwa seberapapun kita menyangkal kepada Tuhan namun kasih-Nya kepada para umat-Nya tak kan pernah berkesudahan. Itulah mengapa kita seharusnya sebagai hamba-hamba-Nya harus dapat meneladan sikap ketulusan dan kemurnian kasih dari Tuhan yang juga merupakan Guru sekaligus teladan hidup kita. Maka dari itu marilah kita senantiasa berusaha selalu mengucap syukur terhadap apa yang sudah kita terima dalam kehidupan kita entah itu saat senang maupun saat susah serta senantiasalah berbagi kasih yang tulus tanpa batas kepada sesame kita. GBU

Kamis, 26 November 2015





Nama                       : Lia Yohana
NIM                        : 15.E1.0154
Dosen Pembimbing  : Gregorius Daru

BERBAGI SENYUMAN DENGAN KASIH

Hallo sahabat…
Dalam menjalani sebuah lika-liku hidup tentunya kita selalu merencanakan sesuatu dengan baik dan memiliki harapan agar apa yang sudah kita rencanakan dapat terealisasikan dengan baik. Namun bila melihat kenyataannya, rencana yang kita buat tidak berjalan semulus dengan apa yang sudah kita bayangkan. Seringkali ada beberapa kerikil yang membuat kita diuji dalam mencapai sesuatu yang kita harapkan.
Dalam hidup ini pula, tidak semua orang beruntung. Banyak di sekitar kita yang kehidupannya kurang bahagia bila dibandingkan dengan kehidupan yang kita miliki. Entah itu karena kondisi ekonomi, ditinggal oleh orangtua, tidak mendapatkan kasih saying, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat hidup menjadi terasa pahit. Di blog ini, saya akan sedikit bercerita mengenai kunjungan saya dan juga teman-teman saya ke sebuah panti asuhan anak.
Rencana ini awalnya muncul ketika kami (saya dan teman-teman kelompok saya) digabungkan menjadi satu kelompok dalam mata kuliah Pendidikan Agama. Dalam tugas kami, kami dituntut untuk melakukan sebuah proyek kebaikan mengenai kasih kepada sesama. Akhirnya setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk pergi ke panti asuhan anak. Alasan mengapa kami memilih melakukan kegiatan kunjungan ke panti asuhan anak adalah karena kami melihat kehidupan anak-anak panti asuhan jauh kurang beruntung disbanding kami yang masih memiliki orang tua yang sungguh mencintai dan menjaga kami, selain itu kami ingin menyelami/mengetahui bagaimana kehidupan mereka sehari-hari dan apa yang sebenarnya yang mereka rasakan dengan hidup dip anti asuhan, serta mencari tahu apa sebenarnya harapan mereka untuk jalan hidup mereka.
Saya dan juga teman-teman kelompok saya memilih Panti Asuhan Taman Pamardi St. Thomas. Saat kami sampai disana, kami menemui seorang suster yang bertanggungjawab dip anti asuhan tersebut. Kami menjelaskan maksud kedatangan/kunjungan kami ke panti asuhan tersebut. Setelah mendapatkan izin, akhirnya kami diperkenankan untuk bertemu dengan anak-anak yang berada panti asuhan Taman Pamardi St. Thomas. Di panti asuhan ini tidak semua anak yang berada disitu juga tinggal dip anti asuhan tersebut, beberapa dari mereka hanya dititipkan dan pada sore harinya pulang kembali ke rumah mereka. Setidaknya mereka yang masih bisa pulang ke rumah, masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan anak-anak yang memang karena keadaaan harus tinggal di panti asuhan.
Saat berada panti asuhan tersebut, agar dapat mengakrabkan suasana kami memancing mereka dengan memberikan kertas gambar dan juga kami menyiapkan gambar-gambar untuk diwarnai. Dan dengan cara itu kami secarab pelan-pelan dapat mengambil hati mereka dan menjadi lebih akrab. Setelah suasana menjadi semakin akrab, kami mulai bertanya-tanya kepada mereka tentang kehidupan yang mereka jalani di panti asuhan dan bagaimana perasaan mereka selama ada disitu. Dari semua cerita yang sudah kami dengar ada satu cerita yang menurut saya dan juga teman-teman kelompok merupakan cerita hidup yang mengharukan, cerita itu berasal dari seorang anak yang bernama Elizabeth. Anak yang duduk di kelas 2 SD dari provinsi DIY, yang merupakan salah satu korban broken home dimana ibunya menjadi TKW di Saudi Arabia sedangkan ayahnya tidak diketahui jejaknya. Berdasarkan informasi dari suster anak yang bernama Elizabeth dititipkan di sebuah panti asuhan kecil yang berada di Yogyakarta semenjak umur 3 tahun. Anak itu dirawat dan dibesarkan oleh seorang pemilik psnti asuhan yang sudah lanjut usia, yang Elizabeth fikir sebagai simbahnya. Di panti asuhan kecil itu Elizabeth tinggal bersama kelima anak panti asuhan lainnya, suatu ketika saat sudah memasuki usia Sekolah Dasar, Elizabeth ingin memiliki banyak teman oleh si pemilik panti yang dianggap oleh Elizabeth sebagai simbahnya mengirimnya ke panti asuhan Taman Pamardi St. Thomas. Setelah dimasukkan disana, Elizabeth sering rindu dengan tempatnya yang semula. Ketika dia ditanya apakah merindukan orangtuanya dia menjawab “Tidak” dan dia berkata “dia lebih rindu kepada simbahnya” yang sebenarnya bukan simbahnya. Anak ini merasa tidak nyaman di panti asuhan yang sekarang ini karena dia masih baru ditempat itu, tepatnya ia pindah pada tanggal 16 Agustus 2015. Dan dia memerlukan adaptasi yang lama dengan tempat yang baru.
Setelah saya mendengar cerita dari anak-anak yang berada di panti asuhan tersebut dan  saya renungkan dalam hati saya pribadi, ternyata saya jauh lebih beruntung dari anak-anak tadi. Saya memiliki keluarga yang utuh dan selalu menjaga, merawat, dan membesarkan saya mulai saya berada dalam kandungan ibu sampai saya yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Namun, saya juga merasakan sebuah penyesalan dalam diri saya, karena terkadang saya mengecewakan hati mereka lewat perilaku dan ucapan saya yang membuat hati kedua orangtua saya menjadi sedih. Terkadang hanya karena masalah sepele dan itu sebenarnya adalah kesalahan saya sendiri, saya memarahi dan menyalahkan kedua orang tua saya.
Saya mendapatkan pelajaran bahwa keluarga itu harus dijaga dan disyukuri. Tuhan sudah memberikan kita suatu keluarga sebagai sumber kebahagian kita dalam menjalani kehidupan kita ini. Saya belajar tentang kasih saying dan memberikan perhatian kepada kedua orangtua saya, manyayangi mereka dengan sepenuh hati saya, dan menjadikan mereka menjadi yang pertama dari segalanya. Karena orangtualah yang memberikan kasih saying paling tulus kepada kita. Mereka tidak pernah mengeluh ataupun meminta balasan kepada kita terhadap apa yang sudah mereka berikan kepada kita sejak kita berada dalam kandungan sampai sekarang ini. Sayangilah keluarga kalian terutama keduaorang tua kalian :)