Rabu, 28 Oktober 2015



BERANI MENJADI SAKSI KRISTUS

Lukas 9:23
“Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”

            Sadar atau tidak, menjadi saksi Kristus selalu ada konsekuensi, terutama member kesaksian iman. Sejak awal Yesus sudah mengingatkan para pengikut-Nya untuk berani menghidupi iman kepercayaan dengan setia. Tentu saja dalam menghidupi iman dan member kesaksian itu para murid tidak sendirian, karena Tuhan selalu akan menyertai mereka. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Roh Kudus akan mengajari para murid bersaksi terutama ketika menghadapi tantangan. Tuhan Yesus sungguh mempersiapkan para pengikut-Nya dengan baik dan membekali mereka untuk menjadi pewarta kasih-Nya.
          Oleh karena itu untuk berani menjadi saksi Kristus, kita sendiri harus memperlengkapi dengan senjata rohani yang ampuh, minimal dengan Kitab Suci. Karena melalui Kitab Suci, Allah berbicara tentang seluruh keselamatan Allah sejak manusia pertama jatuh dalam dosa.
          Pada jaman sekarang ini penolakan terhadap pengikut  Kristus makin nyata. Kasus yang paling gres adalah kasus pembakaran gereja di Singkil, Aceh dan hal ini tentu menyebabkan ketakutan banyak orang. Atau di tempat lain bagaimana orang-orang Kristen di daedrah Timut Tengah terus diburu dan bahkan dibunuh. Inilah saatnya para pengikut Kristus berani menjadi saksi-Nya.
          Salah satu contoh pengikut Kristus adalah Santo Ignatius dari Anthiokia. Baginya kematian adalah kesempatan berani menjadi saksi Kristus. Baginya kematian merupakan saat yang membahagiakan karena boleh mati demi Kristus yang dicintainya. Ia begitu tegas menghadapi tantangan bahkan penganiayaan karena Roh Kudus menyertainya. Sikap St. Ignatius yang diperlukan pada jaman ini yakni berani menjadi saksi Kristus.
          Bagaimana dengan diri kita, apakah kita kendor dengan adanya warta yang menakutkan karena orang-orang Kristen para pengikut Kristus akan terus dikucilkan dan bahkan akan dibunuh. Dan yang membunuh itu mengatakan bakti kepada Allah. Berani menjadi saksi Kristus tentu tidak harus seperti para martir, tapi bisa melalui perbuatan kita yang harus tampil beda dengan orang kebanyakan.

                                                                   Sumber : www.kuasadoa.com

Berikut ini kutipan cerita hidup yang saya ambil dari Majalah HIDUP

AGAR MEREKA TIDAK DIDISKRIMINASI

Matanya berkaca-kaca. Sesekali ia mengusap guliran bening air mata di kedua pipinya. Sepertinya ia tak tahan membendung perasaannya. Iapun tampak terharu saat menyaksikan sekelebat kilas balik karyanya melalui layar kaca ditengah-tengah orang-orang penderita penyakit yang paling “ditakuti” di dunia saat ini : AIDS. Bahkan ketika maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan Sido Muncul Award kategori sosial di Bawen, Semarang, Jawa Tengah, medio Desember 2002 lalu, air mata haru itu sepertinya tak tertahankan lagi. Sesekali ia menggigit bibirnya sendiri tatkala Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Sido Muncul menyalaminya.
          Penerimaan penghargaan yang diberikan kepada orangorang yang dengan tulus melayani sesame yang menderita dan berkekurangan itu tiada lain adalah Situ Nurdjaja Soltief (33). Akrab dipanggil Soltief di lingkungan kerjanya dan nona di tengah keluarganya. Ia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Dok II Jayapura, Tanah Papua, sejak 1996 hingga sekarang.
          Hadir di lokasi pabrik jamu terbesar di Indonesia untuk menerima oenghargaan itu, bagi Soltief, tak pernah terlintas dalam bayangannya. Ia sama sekali tidak menduga, karya cinta kasihnya yang ia lakukan secara “diam-diam” (pada awalnya) itu menarik perhatian banyak orang. “Saya tak menyangka,” tuturnya singkah kepada HIDUP. Ia tak tahu siapa dan bagaimana karya yang dilakukan bersama dua orang temannya itu sampai ketangan dewan juri yang terdiri dari Mohamad Sobary (Pimpinan Kantor Berita Antara), Maria Hartiningsih (wartawan senior Kompas), Anton Soedjarwo (Pimpinan Dian Desa), dan Romo I. Sandyawan Sumardi SJ (penerima anugerah “Yap Thian Hien”). “Mereka mengabdikan diri secara tulus, bahkan terkadang sampai  mengurbankan apa yang mereka miliki sendiri,” ujar Sobary tentang Soltief dan Suster Ilyas, kedua penerima penghargaan kategori untuk tahun 2002 lalu.



Perkenalan Dengan ODHA

Lahir di Jayapura tahun 1970 dari pasangan Lutfi Soltief (56) dan Siti Nurma Soltief (50), Soltief mengaku secara kebetulan saja berkenalan dengan penderita AIDS yang sering disebut juga ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Setelah menyelesaikan pendidikan keperawatan (dilantik) di Universitas Cendrawasih (Uncen), ia mulai bertugas di RS Dok II Jayapura pada bagian perawat penyakit dalam. Tahun 1996, ia dipindahkan untuk bekerja di bagian perawatan I/VIP. Di bagian inilah ia pertama kali berkenalan dengan ODHA. Tepatnya, Oktober 1998. Saat itu ia merawat pasien laki-laki yang kebetulan adalah teman mahasiswa satu angkatan di Uncen. Namanya Matferi.
          Saat itu Mtferi (30) masuk RS dengan gejala benjolan di daerah ketiak sebesar telur ayam. Benjolan itu juga ditemukan pada kedua lipatan paha serta demam yang berkepanjangan, serta nyeri seklai pada tulang-tulang. Rencana semula pasien ini mau dirujuk ke Manado untuk dioperasi. Namun dibatalkan karena hasil pemeriksaan darah yang diambil sehari setelah dirawat, yaitu tes determin untuk HIV menunjukkan hasil positif. Hari-hari selanjutnya, pasien menunjukkan gejala-gejala yang semakin banyak, seperti dari mulutnya keluar jamur. Seminggu setelah dirawat, Matferi meninggal dunia dengan tenang.
          Sejak peristiwa tersebut, Soltief mulai tertarik dengan masalah HIV/AIDS. Drai pelbagai media masa, ia juga mendapat informasi nbahwa kasus HIV/AIDS di Tanah Papua meningkat dengan tajam. Banyak teman sekerjanya yang merasa takut dan kasus tersebut merupakan kasus pertama yang dirawat di RS Dok II Jayapura. Lalu, bulan Oktober 1999, ia dipindahkan ke ruang perawatan paru-paru. Di bagian inilah ia banyak bertemu pasien dengan gejala-gejala AIDS.
          Suatu waktu, seorang teman Soltief yang kebetulan bekerja di PKBI, menginformasikan bahwa Klinik Reproduksi yang diselenggarakan PKBI di Tanjung Elmo (lokasi sekitar 37 km dari Jayapura) membutuhkan tenaga seorang perawat. Ia segera memasukkan lamaran dan diterima bekerja pada LSM PKBI itu sebagai relawan. Disinilah ia mulai belajar lebih banyak tentang HIV/AIDS.
          Tak lama kemudian, November 2000, ia mendapat kesempatan pelatihan konseling pre dan post test pemeriksaan HIV/AIDS bagi tenaga kesehatan yang diadakan Kanwil Kesehatan Provinsi Irian Jaya. Sesudah itu, ia mulai mencoba mempraktikkan pengetahuannya dan melakukan konseling pada pasien AIDS dan keluarganya di ruang kerjanay. Mula-mula ia mengalami kesulitan. Muncul juga rasa was-was, takut, kadang juga tidak percaya diri. Namun setelah banyak berdiskusi dan mendapat dukungan dari aktivis AIDS yang sudah berpengalaman, ia kian berani melakukan konseling. Rasa  PD-nya pun meningkat katika sebuah lembaga memberikan kesempatan padanmya bersama tiga peserta dari Merauke dan Sorong mengikuti The Fifth International Conference on Home and Community Care for People Learning With HIV di Chiang Mai, Thailand, Desember 2001. “Pengetahuan dan pengalaman lapangan sewaktu di Chiang Mai inilah yang sangat membantu saya,” ujar aktivis yang membentuk satu “payung” bernama jayapura Support Group (JSG) itu.


Dari Rumah ke Rumah         

Mendengar nama HIV/AIDS saja bulu roma orang sudah merinding. Apalagi harus menjadi perawat atau pendamping bagi mereka. Anggapan bahwa penyakit ini amat berbahaya sudah merasuk dalam diri banyak orang. Tambah lagi, obatnya belum ditemukan. Situasi ini juga membebani Soltief. Orang-orang bilang, apa mungkin ia bisa melakukan tugas ini. Sinisme bermunculan. Namun, justru itu menjadi tantangan baginya. Atas inisiatif sendiri, selepas bekerja di RS, ia berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain. Terkadang ia mesti naik perahu cepat dari satu pulau ke pulau yang lain. Namun PNS golongan II-D ini tak mau putus asa. “Saya hanya ditemani seorang guru dan seorang ibu yang statusnya HIV/AIDS positif,” tuturnya sambil menambahkan  bahwa mereka sendiri mengeluarkan biaya-biaya yang diperlukan. “Kalau saya lagi ada uang, ya saya yang bayar taksi atau jonson,” timalnya. Dalam mendampingi penderita AIDS ini, Soltief lebih banyak memberikan dukungan moril. Itu yang paling utama. Umumnya para penderita sudah kehilangan harapan. Padahal belum tentu begitu. Selain itu, mereka juga memberdayakan anggota keluarga pasien bagaimana cara merawat penderita AIDS tersebut. “Ketika pasien pulang dari rumah sakit, tentu memerlukan perawatan di rumah dan bagaimana cara memberikan obatnya,” timpal perempuan yang murah senyum ini. “Kami juga berusaha memberikan dorongan kepada keluarga agar mereka tabah dalam menghadapi maut ini, “kata Soltief dengan mata menerawang.
          Berdasarkan pengalamannya selama memberikan pendampingan, Soltief melihat jenis penyakit yang satu ini sebetulnya sama dengan jenis penyakit lainnya. Penyakit-penyakit lainnya juga bisa berujung kematian.
          Ia mengaku juga bahwa penyakit ini sungguh-sungguh dapat menakutkan sekaligus mematikan. Tapi toh tidak segawat yang dipikirkan orang. “Lrebih berbahaya lagi, orang langsung menstigatisasa dan mendiskriminasi korban dan keluarganya juga,” tandasnya. Ini pula yang ingin diperjuangkannya. “Supaya mereka janganlah diperlakukan seperti itu, “timpalnya dengan sorot mata yang tajam.
          Soltief makin lama makin prihatin katena jumlah korban, terutama di Irian, terus bertambah. Data terbaru yang ia peroleh (2002) ada 1113 korban. Itu yang tercatat. Berapa yang tidak? Korban meningkat sekitar 50-60 orang per tahun. Paling banyak di Merauke, Timika, Jayapura, dan Sorong. Ini pusat-pusat perdagangan dan pelabuhan. “Umumnya, orang Papua. Pendatang Cuma beberapa orang saja. Maka kami di Papua sudah siaga satu. Maju kena mundur kena. Bagi saya ini cukup parah,”ungkapnya prihatin. Ia mengajak berhitung, kalau satu orang pasien yang tercatat itu mewakili 100 orang yang tidak tercatat, hitung saja berapa sebenarnya yang sudah menderita AIDS di Papua.
          Melihat kenyataan seperti itu, perempuan berambut pendek ini mengatakan akan berupaya sekuat tenaga untuk memberikan advokasi kepada masyarakat di sekitarnya.
          Teruslah berjuang, Suster Soltief!!!
                                                                    Sumber : Majalah HIDUP

Dari cerita hidup dari Suster Soltief, tentu kita dapat meneladan keberaniannya dalam menjadi saksi Kristus di tengah-tengan kehidupan masyarakat yang ia cintai. Untuk menjadi saksi Kristus tidak perlu dengan tindakan yang besar, namun memulai dari yang kecil dan kemudian dengan dilakukan dengan ketulusan hati dan dasar cinta kasih, Tuhan mengubah sesuatu yang kecil itu menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang lain. Tentu perjuangan Suster Soltief tidak berjalan mulus, dapat kita lihat bahwa ia mengalami tekanan batin pula apakah ia mampu berhasil dengan tindakan yang ia ingin lakukan selain itu ia juga diremehkan orang, sinisme pun juga bermunculan, orang-orang berkata apakah Suster Soltief mampu melakukan itu. Namun itu tak menjadikan suatu penghalang untuk Suster Soltief dalam melanjutkan karya cinta kasinya bagi para penderita HIV/AIDS. Maka dari itu jadilah saksi Kristus di tengah-tengah kehidupanmu. Dengan keberanian dan dasar cinta kasih, Tuhan akan selalu meyertai langkahmu. Tuhan memberkati.